Penyintas Kontemplasi : 00-Preambule
Kelakar malam itu masih bergaung dalam benaknya. Menghambat akal pada dirinya, membuatnya berenang-renang pada pemikiran. Kolamnya berbentuk hati maupin persegi. Dia bangun itu kolam agar orang berakal mengerti. Meninggalkan bermacam interperetasi. Sehingga hewan pun dapat berkontemplasi di ambang malam.
Deru napasnya terdengar sedari tadi. Langkan serta hentakan kakinya keras terdengar menerkam sunyi. Menari ia pada kolam yang ia junjung tinggi sedari pagi belum lahir. Tangannya mengibas pada air jernih yang selama ini ia minum, sebuah kebanggaan baginya untuk menenggak air bening yang segar dan berasa suci. Ia kira ia sedang berkubang dalam surga.
Penjelajah pertama kali menemukan kolam dan dirinya yang masih menari. Lalu angin membawa kabar akan kolam indah berbentuk hati dan persegi. Tiap matahari terbit dan tenggelam, selalu ada penjelajah yang berhenti. Cerita akan kolam indah di tepi tebing kian merebak kesana kemari. Kabarnya nampak terbawa angin, membawakan pendatang yang hilir mudik. Hingga mereka menetap.
Kebanggaannya akan hilang; rasa bahagianya mulai tergerus.
Kian hari ia semakin muak pada orang lain yang berkubang pada lubang yang sama padanya. Sekalipun mereka sendiri tak tahu esensi bentuk hati dan persegi yang tertata dalam aturan berinterpretasi sang agung. Memaksakan diri mereka berkubang pada kolam yang dalam dan bentuknya saja tak mereka tahu.
3008'20-0109'20